Hukum Islam Kajian Keislaman

Bolehkah Jenazah Covid-19 Langsung Dikuburkan Tanpa Dimandikan?

Dalam islam manusia diposisikan sebagai penerima anugerah karamah insaniyah (martabat kemanusiaan). Untuk menjaga martabat ini salah satunya terwujud dalam bentuk setelah meninggal dunia mereka dianjurkan dimandikan, dikafani, disholati dan dikuburkan secara fardu kifayah bagi segenap orang islam.

Namun dalam kondisi tertentu, ketentuan ini sulit diterapkan, seperti jika diterapkannya pada pasien covid-19 yang meninggal. Sebab meski pasien covid ini telah meninggal tentu virusnya masih berbahaya dan dapat menular kepada orang-orang yang melakukan kontak langsung dengan jenazah tersebut. Untuk menghindari penularan ini jenazah tidak dimakamkan sebagaimana biasa, melainkan ia tidak dimandikan dan tidak dikeluar dari dalam peti.

Pertanyaannya bolehkan jenazah covid tidak dimandikan dan langsung dikuburkan dalam peti?

Dalam beberapa literatur kitab fikih jenazah muslim wajib dimandikan, dikafani dan disholati:

وَغُسْلُ الْمَيِّتِ فَرْضُ كِفَايَةٍ بِإِجْمَاعِ الْمُسْلِمِينَ وَمَعْنَى فَرْضِ الْكِفَايَةِ أَنَّهُ إذَا فَعَلَهُ مَنْ فِيهِ كِفَايَةٌ سَقَطَ الْحَرَجُ عَنْ الْبَاقِينَ وَإِنْ تَرَكُوهُ كُلُّهُمْ أَثِمُوا كُلُّهُمْ وَاعْلَمْ أَنَّ غُسْلَ الْمَيِّتِ وَتَكْفِينَهُ وَالصَّلَاةَ عَلَيْهِ وَدَفْنَهُ فُرُوضُ كِفَايَةٍ بِلَا خِلَافٍ

“Hukum pemandian mayit adalah fardu kifayah(kewajiban fakultatif) berdasarkan ijmak. Makna fardu kifayah adalah apabila kewajiban itu sudah dilakukan oleh seorang yang dianggap mencukupi, maka gugurlah tanggungan bagi yang lain. Jika sama sekali tidak ada yang melakukan, maka semuanya berdosa. Ketahuilah, bahwa pemandian mayit, pengafanannya, pensholatannya, adalah fardu kifayah tanpa khilaf.” (An-Nawawi, Al-Majmu Syarah Al-Muhadzab, juz V, halaman 128).

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa memandikan, mengakafani, dan mensholati jenazah hukumnya adalah fardu kifayah, namun dalam kondisi tertentu seperti saat ini, pemulasaran terbaik terhadap jenazah terkadang tidak dapat diwujudkan karena kendala tertentu seperti soal memandikan mayit terpapar covid, yang mana jika dilakukan dengan standar normal diduga kuat dapat menimbulkan bahaya bagi yang hidup, terutama bagi yang berkontak langsung dengan jenazah tersebut. Sehingga proses memandikan, mengkafani dan mensholati harus sesuai dengan saran tenaga medis.

Dan jika memandikannya masih diduga kuat berbahaya maka jenazah boleh langsung dikafani dan disholati, tanpa dimandikan. Lantaran kondisi sulit atau darurat tersebut maka boleh mengambil langkah kemudahan, hal ini selaras dengan kaidah fikih:

المشقة تجلب التيسير

“Kondisi sulit dapat mendatangkan kemudahan”

Dan rasulullah saw bersabda:

عن أبي هريرة عبد الرحمن بن صخر رضي الله تعلى عنه قال سمعت رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم يقول: ما نهيتكم عنه فاجتنبوه وما أمرتكم به فأتوا منه ما استطعتم فإنما أهلك الذين من قبلكم كثرة مسائلهم واختلفهم على أنبيائهم)رواه البخاري ومسلم

“ Dari Abi hurairah Abdul rahman bin shokhr Ra. Berkata: “ Saya mendengar nabi muhammad saw. Bersabda: “ segala sesuatu yang aku larang buat kalian semua, maka jauhilah. segala sesuatu yang aku perintahkan kepada kalian semua, maka lakukan semampu kalian. Generasi sebelum kalian hancur disebabkan terlalu banyak bertanya dan menyelisihi para nabi mereka(HR. Bukhari – Muslim).

Mengenai jenazah yang tidak dikeluarkan dari dalam peti melainkan ia langsung dikuburkan hukumnya makruh kecuali jika ada perihal yang mengharuskan tidak boleh dikeluarkan maka jenazah tersebut wajib dikuburkan dalam peti.

Keteranga ini di jelaskan oleh Syeh Zainuddin al-Malaibary yang menyatakan:

ويندب الافضاء بخده الايمن – بعد تنحية الكفن عنه – إلى نحو تراب، مبالغة في الاستكانة والذل، ورفع رأسه بنحو لبنة وكره صندوق – إلا لنحو نداوة فيجب

“Disunnahkan menempelkan pipi bagian kanan- setelah menyiapkan kafan darinya- ke tanah. Dengan maksud sebagai penekanan terhadap sifat kerendahan diri dan hinanya mahluk, dan meninggikan bagian kepala dengan seumpama batu bata. Makruh hukumnya menaruh mayit dalam peti, kecuali karena ada unsur yang mengharuskannya, sehingga wajib dimasukkan kedalam peti.”

Dengan demikian, melalui penjelasan diatas, maka dapat diketahui bahwa jenazah covid-19 yang diidentifikasi dapat menimbulkan bahaya dan penularan  boleh tidak dimandikan. Dan menaruh mayit didalam peti karena wabah yang terdeteksi dapat berbahaya, hukumnya adalah wajib.

Demikian, semoga dapat menjadi solusi bagi permasalahan yang tengah terjadi dimasyarakat, khususnya bagi penanya.

Wallahu a’lam bis shawab

Penulis: Ahmad Nurul Huda, S. Ag.

5.0/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *