Kajian Keislaman Sirah Nabawiyah

Kisah Cinta Putri Sulung Rasulullah, Zainab part 1

Berikut adalah kisah cinta Putri Sulung Rosululloh Sayyidah Zainab dengan Abul Ash putra Sayyidah Halah adik Sayyidah Khodijah istri Rosululloh.

Kanthongumur terjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Mungkin ada yang kurang pas. Nanti bisa dikoreksi. Saya membaca kisah ini, dan menitikkan air mata saat membaca kisah Rosululloh melihat kalung Khodijah yang dijadikan sebagai tebusan.

Abul Ash bin Al-Robi datang kepada Nabi Muhammad sebelum masa kenabian. Abul Ash berkata: “Aku ingin melamar Zainab putri-mu yang paling dewasa”. (Ini adalah bentuk adab)

Nabi Muhammad bersabda: “Aku tidak akan menerima lamaranmu, sebelum aku meminta kesediaannya”. (Ini adalah tanggung jawab wali)

Nabi Muhammad kemudian menemui Zainab dan bersabda: “Putra bibimu (sepupumu) datang kepadaku, ia menyebut namamu. Apakah kamu bersedia untuk dijadikan sebagai istrinya?”.

Zainab pun memerah wajahnya dan tersenyum, tanda bahwa ia menerima. (Inilah bentuk rasa malu)

Nabi Muhammad pun kemudian menikahkan Zainab dengan Abul Ash. Dan dimulailah kisah cinta keduanya, sehingga keduanya diberikan putra bernama Ali dan putri bernama Umamah.

Setelah beberapa waktu, terjadilah suatu permasalahan keluarga. Nabi Muhammad diangkat sebagai Nabi. Sedangkan saat itu, Abul Ash sedang dalam bepergian. Dan ketika pulang, ia mendapatkan istrinya telah beriman. (Permasalahan tentang aqidah)

Zainab berkata kepada Abul Ash: “Saya memiliki kabar besar untukmu”.

Abul Ash kemudian berdiri meninggalkan Zainab. Zainab terkejut dan mengikuti Abul Ash.

Zainab berkata: “Ayahku telah diutus menjadi Rosul dan aku beriman kepadanya”.

Abul Ash berkata: “Mengapa engkau tidak mengabariku terlebih dahulu?”.

Zainab berkata: “Tidak mungkin aku mendustakan ayahku, dan ayahku bukanlah pendusta. Ayahku orang jujur dan dipercaya”.

“Bukan hanya aku sendiri yang beriman. Ibuku (Khodijah), saudara-saudaraku, putra pamanmu Ali bin Abi Tholib, putra bibimu Utsman bin Affan dan temanmu Abu Bakar pun telah beriman”. Lanjut Zainab.

Abul Ash berkata: “Sungguh aku tidak mau bila orang-orang berkata bahwa aku mengkhianati kaumku, mengkufuri nenek moyangku karena mencari kerelaan istriku. Sungguh ayahmu bukanlah orang yang patut dicurigai. Apakah kamu tidak mau menerima alasanku?”.

Zainab berkata: “Bila aku tidak menerima alasanmu, siapa lagi orang yang mau menerima alasanmu? Aku adalah istrimu. Aku akan berusaha menolongmu untuk jalan yang benar dengan semua kemampuanku”. (Saling memahami antara suami dan istri)

Dan ucapan Zainab ini dibuktikan dengan kesabaran selama dua puluh tahun.

Abul Ash masih terus dalam kekufurannya.

Dan saat menjelang hijrah ke Madinah, Zainab berkata kepada Nabi: “Wahai Rosululloh, apakah engkau mengizinkan diriku untuk tetap bersama suamiku di Makkah?”. (Bentuk cinta yang dalam seorang isteri kepada suami, tanpa menyakiti perasaan orang tua)

Rosululloh memberikan izin kepada Zainab untuk tinggal bersama sang suami di Makkah. Sampai pada saat kejadian perang badar, Abul Ash pun berperang di barisan orang-orang kafir Quraisy. Suaminya berperang melawan ayahnya.

Zainab berkata: “Ya ALLOH, saya khawatir kalau anakku menjadi yatim. Aku pun khawatir kehilangan ayahku”. (Kebimbangan dan kebingungan)

Setelah perang usai, Abul Ash menjadi tawanan perang. Dan kabar ini pun sampai ke rumah Zainab.

Zainab bertanya: “Apa yang terjadi terhadap ayahku?”.

“Kemenangan diperoleh kaum muslimin”.

Zainab lantas bersujud syukur kepada ALLOH atas kemenangan yang diperoleh ayahnya. Zainab lantas menanyakan kabar suaminya.

Dan setelah mengetahui kabar bahwa suaminya ditawan, Zainab berkata: “Aku akan mengirimkan tebusan untuk suamiku”.

Zainab tidak memiliki sesuatu yang berharga untuk dijadikan sebagai tebusan kecuali kalung yang dulu diberikan oleh Khodijah sang bunda kepada Zainab.

Akhirnya, Zainab mencopot kalungnya dan menitipkan kalung itu kepada saudara kandung Abul Ash untuk diberikan kepada Rosululloh sebagai tebusan suaminya.

Saat itu Rosululloh sedang duduk-duduk. Beliau sedang memeriksa tawanan dan tebusan perang. Dan saat melihat kalung Khodijah, beliau bertanya: “Ini tebusan untuk siapa?”.

Para sahabat menjawab: “Tebusan untuk Abul Ash”.

Rosululloh pun lantas menangis, kemudian bersabda: “Ini adalah kalung Khodijah”.

Rosululloh bersabda: “Wahai sahabatku, orang ini (Abul Ash) tidaklah kami mencelanya selama ia sebagai menantuku. Apakah boleh saya melepaskan dirinya dari tawanan?”. (Inilah bentuk keadilan)

Rosululloh bersabda: Apakah kalian menerima jika kalung Khodijah ini dikembalikan kepada Zainab?”. (Tawadhu seorang pemimpin)

Para sahabat menjawab: “Ya boleh, wahai Rosululloh”. (Adab dari prajurit)

Rosululloh memberikan kalung itu kepada Abul Ash dan bersabda: “Katakanlah kepada Zainab: Janganlah kamu hilangkan kalung Khodijah ini”. (Kepercayaan mertua kepada menantunya walaupun sang menantu masih dalam keadaan kafir)

“Wahai Abul Ash, aku akan berkata rahasia kepadamu!”. Rosululloh bersama Abul Ash kemudian berjalan menjauh dari sahabat.

“Wahai Abul Ash, sesungguhnya ALLOH memerintahkan kepadaku untuk memisahkan wanita muslimah dari lelaki kafir. Maukah dirimu mengembalikan Zainab kepadaku?”.

Abul Ash berkata: “Baik”. (Benar-benar sebagai lelaki)

Setelah itu Abul Ash kembali ke Makkah. Di Makkah Zainab telah menunggunya di pintu kota Makkah.

Lanjut Part 2.

Sumber: FB_Kanthongumur

5.0/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *