Sirah Nabawiyah

Kisah Cinta Putri Sulung Rasulullah, Zainab, Part 2

Setelah melihat istrinya, Abul Ash berkata: “Aku akan pergi”.

Zainab bertanya: “Pergi kemana?”.

Abul Ash berkata: “Bukan aku yang akan pergi. Tetapi engkaulah yang akan pergi dan kembali kepada ayahmu”. (Bentuk penepatan janji)

Zainab bertanya: “Karena apa?”.

Abul Ash menjawab: “Ayahmu memisahkan aku dengan dirimu. Pulanglah kepada ayahmu!”.

Zainab bertanya: “Apakah engkau mau menemaniku dan masuk islam?”

Abul Ash menjawab: “Tidak”.

Zainab kemudian pergi ke Madinah dengan membawa putra dan putrinya. (Taat)

Setelah beberapa tahun berlalu, Abul Ash pergi berdagang ke Syam bersama kafilah. Saat melewati sekitar Madinah, rombongan dagang itu dihadang oleh para sahabat. Ia kemudian dibawa oleh para sahabat ke Madinah.

Sesampainya di Madinah, Abul Ash meminta izin kepada sahabat untuk menemui Zainab. Ia datang ke rumah Zainab saat menjelang fajar dan mengetuk pintu rumah Zainab. (Keberanian dan kemantapan seorang laki-laki)

Setelah Zainab melihat Abul Ash, Zainab berkata: “Apakah engkau datang sebagai orang Islam?”. (Harapan seorang istri)

Abul Ash berkata: “Aku datang sebagai orang yang melarikan diri”.

Zainab berkata: “Maukah engkau masuk islam?”. (Usaha sungguh-sungguh seorang wanita untuk kebaikan lelaki)

Abul Ash masih berkata: “Tidak”.

Zainab berkata: “Janganlah takut, selamat datang sepupuku. Selamat datang ayah anak-anakku”.

Sesaat setelah Rosululloh selesai sholat subuh, tiba-tiba dari pojok masjid terdengar suara berkata: “Aku melindungi Abul Ash”.

Rosululloh bersabda kepada para sahabat: “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”.

Para sahabat menjawab: “Iya, wahai Rosululloh”.

Zainab berkata kepada Rosululloh: “Wahai Rosululloh, Abul Ash walaupun jauh, ia adalah sepupuku, walaupun dekat, ia adalah ayah dari anak-anakku, dan ia berada dalam lindunganku”.

Rosululloh diam sejenak, kemudian bersabda: “Abul Ash, tidaklah kami mencelanya saat ia sebagai menantuku. Ia telah berkata dan membuktikan kejujuran perkataannya. Ia telah berjanji kepadaku, dan menepati janjinya kepadaku”.

“Bila kalian menerima permintaanku untuk mengembalikan hartanya kepadanya, dan membiarkannya pulang ke negaranya. Dan ini aku harapkan. Tetapi bila kalian tidak mau menerima permintaanku, aku tidak akan mencela kalian. Karena ini hak kalian”. Dawuh Rosululloh.

Para sahabat menjawab: “Kami kembalikan hartanya kepadanya wahai Rosululloh”. (Ini gambaran musyawarah)

Rosululloh kemudian berjalan ke rumah Zainab bersabda: “Aku lindungi orang yang engkau lindungi wahai Zainab”.

“Muliakan Abul Ash. Karena ia adalah sepupumu dan ayah dari anak-anakmu. Tetapi ia tidak boleh mendekatimu, karena ia tidak halal untukmu”. Lanjut Rosululloh. (Bentuk belas kasih tanpa melanggar syariat)

Zainab menjawab: “Baik Wahai Rosululloh”. (Taat)

Zainab berkata kepada Abul Ash: “Apakah perpisahan kita terasa berat untukmu?”. “Apakah engkau mau masuk Islam dan tinggal bersama di sini?”. (Cinta dan harapan)

Abul Ash menjawab: “Tidak”.

Abul Ash kemudian mengambil harta dagangannya dan kembali ke Makkah.

Sesampainya di Makkah, Abul Ash berkata: “Wahai penduduk Makkah, ini adalah uang milik kalian. Masihkah ada sisa tanggungan yang dibebankan kepadaku?”. (Amanah)

“Semoga engkau dibalas dengan baik, dan engkau sudah memenuhi tanggunganmu dengan baik”. Jawab penduduk Makkah.

Abul Ash kemudian berkata: “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh”.

Setelah itu, Abul Ash datang ke Madinah. Abul Ash sampai di Madinah menjelang pagi hari, kemudian menghadap kepada Rosululloh dan berkata: “Wahai Rosululloh, kemarin engkau melindungi diriku, dan sekarang aku datang dengan mengucapkan: “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallohu Wa-Asyhadu Anna Muhammadar Rosululloh”.

Abul Ash berkata: “Wahai Rosululloh, bolehkah saya kembali lagi kepada Zainab?”. (Cinta yang dalam)

Rosululloh kemudian membawa Abul Ash ke rumah Zainab. Setelah mengetuk pintu, Rosululloh bersabda: “Wahai Zainab, sepupumu datang kepadaku dan meminta izin kepadaku untuk kembali kepadamu, apakah engkau menerimanya?”.

Zainab tersipu malu dan tersenyum menerima kembali Abul Ash sebagai suaminya.

Setelah kejadian ini, setahun kemudian Zainab meninggal dunia. Abul Ash menangis sedih karena ditinggal wafat Zainab. Rosululloh pun membelai Abul Ash dan menenangkannya.

Abul Ash berkata: “Wahai Rosululloh, sekarang aku tidak mampu bertahan hidup tanpa didampingi oleh Zainab”.

Dan Abul Ash pun wafat menyusul istrinya setahun kemudian.

Mbah Maimoen sering menyebutkan:

نعم الرجل أبو العاص تزوج بنتي ولم يحب غيرها

Sumber: FB_Kanthongumur

penulis: Ust. Wahyudi_khodam KH. Maemoen Zubair

5.0/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *