Kajian Keislaman Santri

SHOLAWAT BERUJUNG NERAKA!!

“ Marhaban Yaa Nura’aini… Marhaban Yaa Jaddal Husaini …“

Hiruk-pikuk gema selawat dan pujian-pujian sudah mulai terdengar di sebagian wilayah di bumi kita tercinta. Meskipun tidak semua, namun mayoritas umat Islam di Nusantara ini sangatlah antusias menyambut satu bulan yang mulia ini. Yah, Rabi’ al-Awwal adalah di antara bulan yang sangat dinanti-nanti bahkan disepesialkan bagi sebagian orang.

Perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. nampaknya menjadi magnet yang sangat ampuh untuk mengembalikan rasa rindu serta memperkenalkan Rasulullah SAW. Ke semua kalangan dan golongan masyarakat. Meskipun dalam kenyataanya, problematika serta perdebatan masih saja sengit dan berlangsung. Namun, alangkah baiknya jika saling menghargai menjadi tujuan utama dari perbedaan yang tak kunjung berakhir ini.

Dalam Alquran banyak sekali ayat-ayat yang menyebutkan sifat-sifat terpuji serta  mengambarkan kemuliaan Rasulullah SAW. Semisal ayat yang sangat masyhur di telinga kita:

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِمَنْ كَانَ يَرْجُو اللهَ وَالْيَوْمَ الْآخِرَ وَذَكَرَ اللهَ كَثِيرًا

” Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah. (Q.S Al-Azhab : 21)

Sejatinya dengan satu ayat ini saja, kita sudah mampu memahami. Bahwa begitu mulianya Rasulullah SAW. sampai-sampai Allah sendiri yang memuji beliau SAW. Lalu pertanyaanya, kalau saja Allah—Tuhan kita semua memuji Rasul-Nya. Bagaimana dengan kita makhluk-Nya? Bukankah kita lebih berhak bahkan lebih wajib untuk memuliakan dan memuji Rasulullah?

Bahkan Rasulullah SAW tersenyum bahagia takala mendapati para sahabat memuji beliau. Diantara syair  yang pernah didendangakan adalah:

وَأَحْسَنُ مِنْكَ لَمْ تَرَ قَطُّ عَيْنِي         وَأَجْمَلُ مِنْكَ لَمْ تَلِدْ النِّسَاءُ

خُلِقْتَ مُبَرَّءاً مِنْ كُلِّ عَيْبِ         كَأَنَّكَ قَدْ خُلِقْتَ كَمَا تَشَاءُ

Mataku benar-benar tidak pernah melihat orang seindah dirimu, dan tidak pernah ada seorang perempuan-pun yang melahirkan bayi seperti dirimu.

Engkau (wahai Rasulullah) diciptakan dalam keadaan suci dari segala aib, seakan engkau diciptakan sesuai keinginanmu sendiri.

Apapun bentuk pujian kita kepada Rasulullah SAW. baik berupa prosa maupun dendangan syair, hendaknya kita tetap memperhatikan aturan dan adab-adab yang telah diatur oleh syariat ini. Agar niat baik memuji banginda Nabi tak berubah menjadi hal yang malah membuat kita terjerumus dalam kesalahan. Apalagi berujung kepada dosa.

Hal ini yang diwanti-wanti oleh pengarang Qashidah al-Burdah Imam Syarif al-Din Muhammad bin Sa’id al-Bushiri dalam baitnya:

دَعْ مَا ادَّعَتْهٌ النَصَارَى فِي نَبِيِّهِمِ      وَاحْكُمْ بِمَا شِئْتَ مَدْحًا فِيْهِ وَاحْتَكِمِ

وَانْسُبْ إِلَى ذَاتِهِ مَا شِئْتَ مِنْ شَرَفٍ     وَانْسُبْ إِلَى قَدْرِهِ مَا شِئْتَ مِنْ عِظَمِ

Jauhilah (jangan kau ikuti)  pujian yang dilakukan orang Nasrani terhadap Nabi Mereka. Dan tetaplah menyanjung Nabi Muhammad SAW. dengan pujian sesukamu, dan teruslah kau tetapkan keutamaan untuknya.

Nisbahkan semua bentuk kemuliaan pada zat Nabi Muhammmad saw. sesukamu. Dan nisbahkan pula semua penghormatan dan ketinggian sebuah derajat pada derajat Nabi Muhammmad saw. sesukamu.

Begitulah syariat mengatur semua ajaranya. Hingga tak ingin umat ini salah dalam melangkah. Bahkan terjerumus dalam kekufuran hanya lantaran menisbatkan apa-apa yang tidak sesuai dengan sifat yang dimiliki Rasulullah SAW. Sebagaimana yang dilakukan kaum Nasrani terhadap tuhan-tuhan mereka.

Dalam hadits riwayat Imam al-Bukhari No: 3189 dari sahabat Umar RA. Rasulullah bersabda:

لَا تُطْرُونِي كَمَا أَطْرَتْ النَّصَارَى ابْنَ مَرْيَمَ فَإِنَّمَا أَنَا عَبْدُهُ فَقُولُوا عَبْدُ اللهِ وَرَسُولُهُ

 “Janganlah kalian melampaui batas dalam memujiku sebagaimana orang Nasrani mengkultuskan Isa bin Maryam. Sesungguhnya aku hanyalah hamba-Nya, maka itu katakanlah (bahwa Aku hanyalah) ‘abduhu wa rasuuluhu (hamba Allah dan utusan-Nya.”

Jelaslah, bahwa begitu banyak kemuliaan yang kita dapat jika kita memuji Rasulullah. Kenapa? Karena, dalam setiap pujian yang dihaturkan terdapat senang dan bahagianya Nabi. Dan pada setiap kebahagiaan Nabi pastilah tersimpan ke-ridhaan beliau. Hal inilah yang otomatis membuat Allah SWT. juga rida kepada kita para umat yang memuliakan dan memuji Rasul-Nya. Asalkan dengan cara-cara dan adab serta apa-apa yang dibenarkan syariat. Wallahu ‘Alam

 

Penulis: Sugih Darmawan

4.6/5.0 Article rating
5 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *