Dosen/Santri/Alumni Kajian Keislaman

Fiqih Empat Mazhab Menyikapi Pelancong Perempuan

Lexie Alford adalah wanita asal Los Angeles yang berhasil mewujudkan cita-citanya, mengelilingi dunia di usia muda, 21 Tahun. Tak hanya itu, dia berhasil tercatat di Guinness World Records sebagai orang termuda yang berhasil mengelilingi dunia. Di usia yang masih muda ini, Lexi berhasil mengunjungi 196 negara dengan bantuan ibunya yang memiliki agen perjalanan. Bukan hanya Lexi, masih banyak lagi deretan pelancong dan traveller dari kalangan perempuan.

Bagaimana tanggapan para ulama menyikapi pelancong dan traveller perempuan? Simak penjelasan dibawah ini! Selamat membaca.

Syariat mengharamkan seorang laki-laki berduaan bersama perempuan yang bukan mahramnya, baik mahram nasab, susuan (radha’) atau kemertuaan (mushaharah), karena dikhawatirkan adanya fitnah. Bepergian hukumnya sama dengan berduaan, baik bepergian jauh ataupun dekat, seorang laki-laki tidak boleh bepergian berdua dengan seorang perempuan yang bukan mahramnya. Jika perempuan tersebut ditemani mahramnya maka dia diperbolehkan bepergian dengan laki-laki karena khalwat (berduaan) yang dilarang sudah tidak akan terjadi.

Seorang perempuan tidak boleh bepergian ketika tidak bersama mahramnya. Menurut Syafi’iyah dan Hanabilah, seorang perempuan tidak boleh bepergian sekalipun untuk menunaikan ibadah haji jika tidak bersama mahram atau suaminya. Menurut ulama Hanafiyah, seorang perempuan tidak boleh bepergian selama tiga hari atau lebih kecuali ditemani oleh mahram atau suaminya, jika kurang dari tiga hari maka dia boleh bepergian tanpa adanya mahram atau suami dengan catatan aman dari fitnah. Menurut ulama Malikiyah, seorang perempuan tidak boleh bepergian satu hari-satu malam atau lebih tanpa ditemani oleh mahram, baik mahramnya sudah baligh, sudah tamyiz atau bahkan masih shabi (anak yang belum tamyiz), atau sebuah kelompok yang aman dari fitnah, baik kelompok tersebut dari kalangan laki-laki atau perempuan.

Rasulullah bersabda:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ : أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- خَطَبَ فَقَالَ :« لاَ يَخْلُوَنَّ رَجُلٌ بِامْرَأَةٍ وَلاَ تُسَافِرُ امْرَأَةٌ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ ». فَقَامَ رَجُلٌ فَقَالَ : يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ امْرَأَتِى خَرَجْتْ حَاجَّةً وَإِنِّى اكْتُتِبْتُ فِى غَزْوَةِ كَذَا وَكَذَا قَالَ :« فَانْطَلِقْ فَاحْجُجْ مَعَ امْرَأَتِكَ ». لَفْظُ حَدِيثِ عَلِىٍّ رَوَاهُ الْبُخَارِىُّ

Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Abbas bahwa Rasulullah Saw. sedang berkhutbah, beliau bersabda “Jangan sampai seorang laki-laki berduaan dengan seorang perempuan dan jangan sampai seorang perempuan bepergian kecuali bersama mahramnya.” Seorang sahabat berdiri dan bertanya, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya istriku keluar untuk berhaji sementara aku mendapat kewajiban dalam peperangan ini dan itu.” Rasulullah menjawab “Pergilah berhaji bersama istrimu.” Teks hadis ini adalah dari Sayyidina Ali yang diriwayatkan oleh al-Bukhari

Ada beberapa hadis yang membatasi perjalanan perempuan dengan waktu satu hari, dua hari atau tiga hari.

عَنْ أَبِى سَعِيدٍ الْخُدْرِىِّ قَالَ : نَهَى رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَنْ تُسَافِرَ الْمَرْأَةُ فَوْقَ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ. أَخْرَجَهُ مُسْلِمٌ

Diriwayatkan oleh Abu Said Al-Khudri, berkata, “Rasulullah Saw. melarang seorang perempuan bepergian lebih dari tiga hari kecuali bersama orang yang memiliki hubungan mahram.” (HR. Muslim)

عن أَبِي سَعِيدٍ، قَالَ: أَرْبَعٌ سَمِعْتُهُنَّ مِنْ رَسُولِ اللهِ صلى الله عليه وسلم، فَأَعْجَبْنَنِي وَآنَقْنَنِي: أَنْ لاَ تُسَافِرَ امْرَأَةٌ مَسِيرَةَ يَوْمَيْنِ لَيْسَ مَعَهَا زَوْجُهَا أَوْ ذُو مَحْرَمٍ وَلاَ تُشَدُّ الرِّحَالُ إِلاَّ إِلَى ثَلاَثَةِ مَسَاجِدَ: مَسْجِدِ الْحَرَامِ، وَمَسْجِدِي، وَمَسْجِدِ الأَقْصى. أخرجه البخاري

Dari Abu Said Al-Khudri, berkata, “Empat hal yang aku dengar dari Rasulullah Saw. yang membuat aku kagum, bahwa Perempuan tidak boleh bepergian dengan perjalanan selama dua hari yang tidak bersama suami atau mahramnya dan janganlah kalian mengikat pelana kuda (untuk bepergian) kecuali menuju tiga masjid, Masjidilharam, masjidku (masjid Nabawi, Madinah) dan Masjidilaqsa.” (HR. al-Bukhari)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ :« لاَ يَحِلُّ لاِمْرَأَةٍ تُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الآخِرِ تُسَافِرَ مَسِيرَةَ يَوْمٍ وَلَيْلَةٍ إِلاَّ مَعَ ذِى مَحْرَمٍ ». رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Diriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah Saw. bersabda “Tidaklah halal bagi seorang perempuan yang beriman kepada Allah dan hari akhir bepergian dengan masa perjalanan satu hari satu malam kecuali bersama mahramnya.” (HR. Muslim)

Sayyid Hasan Sulaiman Al-Nuri menyebutkan dalam kitabnya Ibanah al-Ahkam syarh Bulugh al-Maram (jilid 2, halaman 364), “Pada dasarnya pembatasan ini bukanlah hal yang dikehendaki, larangan yang ada pada perjalanan yang dilakukan oleh perempuan adalah karena ada unsur kekhawatiran terhadap adanya fitnah apalagi pada zaman yang sudah rusak ini.”

Jadi, aman dari fitnah adalah patokan yang sangat penting bagi traveller perempuan. Seperti yang diungkapkan oleh ulama kalangan Malikiyah bahwa seorang perempuan bahkan diperbolehkan bepergian tanpa adanya mahram atau suaminya, dia diperbolehkan bepergian bersama kelompok perempuan yang memang dirasa aman dari adanya fitnah, tidak memandang apakah perempuan kelompok perempuan itu para pemudi, orang-orang yang sudah dewasa atau orang-orang yang sudah tua, selama keamanan perempuan dari adanya fitnah terjamin maka perempuan masih diberikan kesempatan untuk menikmati perjalanannya.

Penulis: Moh. Nurus Shofi, S. Ag.

5.0/5.0 Article rating
1 Review
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *