Hukum Islam Kajian Keislaman

MERAYAKAN MAULID? PERCUMA!?

Terhitung sudah beberapa hari kita telah melewati momen yang hampir setiap tahun dirayakan oleh sebagian besar masyarakat Islam negeri ini. Tepatnya 12 Rabiulawal yang lalu, sepertinya hari itu masih terasa hangat dan harum bagi mereka yang mencari sesuatu di baliknya. Namun, berlalunya hari Maulid Nabi juga menjadi momen bahagia bagi sebagian orang. Entah apa yang mereka maksudkan, yang jelas fenomena ini nampaknya memang benar-benar terjadi di negeri kita tercinta.

Pembahasan dua kubu ini tidak akan cukup dan selesai begitu saja. Maklumlah, jika ego dan ambisi pribadi masih terus dikedepankan. Niscaya, keinginan kita untuk menjalankan nilai Pancasila yakni “Persatuan Indonesia “ hanya sekadar angan-angan belaka.

Bukankah momen memperingati kelahiran Nabi Muhammad seharusnya menjadi kesempatan terbaik untuk meneladani sifat dan akhlak baik beliau? Meneladani sifat saling menyayangi dan menghargai meski berbeda pendapat? Lalu untuk apa merayakan Maulid jika perpecahan dan saling sengol malah terjadi dari kubu yang fanatik terhadap Maulid?

Pembaca yang budiman, dalam suatu kesempatan Rasulullah SAW. bersabda kepada para sahabatnya,

اَلْمَرْءُ مَعْ مَنْ اَحَبَّ

 “Seseorang kelak akan bersama dengan orang yang ia cintai.(H.R. Bukhari, No: 6169)

Ungkapan inilah yang membuat para sahabat senang luar biasa. Kegembiraan meliputi mereka lantaran pertanyaan yang selama ini terpendam, akhirnya terjawab sudah. Maklum mereka sangat khawatir jika kelak di akhirat tak mampu bertemu dan bersama Rasulullah SAW. karena perbedaan derajat serta kemuliaan yang ada di antara mereka.

Hadis di atas juga menjadi salah satu dalil bagi para pecinta Rasulullah dalam merayakan Maulid. Dasar cinta dan kerinduan inilah yang sangat kuat hingga mendorong mereka rela mengeluarkan apapun guna memeriahkan acara Maulid. Namun, sangat disayangkan di antara mereka banyak yang kehilangan makna cinta yang sesungguhnya. Bukanya tidak boleh merayakan, tapi alangkah baiknya jika makna dari perayaan itu benar-benar ampuh merubah seseorang ke depannya.

Dalam memaknai makna cinta ini, ulama banyak memberikan kriteria masing-masing. Ada yang mengatakan “jika orang sangat mencintai seseorang, niscaya dia akan banyak menyebut tentangnya”. Jadi jika kita mengaku mencintai Rasulullah SAW. dan merindukan keinginan bersama beliau di surga kelak. Maka jalannya adalah dengan banyak menyebut namanya serta berselawat untuknya.

Versi lain Imam Qadhi Iyyadh dalam kitabnya al-Syifa bi Ta’rif Huquq al-Mushthafa menyatakan bahwa, cinta yang sejati dan murni itu bukan hanya sekadar banyak menyebut tentang orang yang dicintainya. Melainkan, harus disertai peneladanan akan segala aspek yang baik serta mengikuti prilaku baiknya. Dengan pendapat ini, nampaknya sudah jelas siapa di antara kita yang benar-benar mencintai Rasulullah SAW. dan siapa yang cintanya hanya omong kosong belaka.

Berkacalah!

Ungkapan yang pas untuk diri kita semua. Baik yang fanatik maupun bagi yang tidak suka dengan perayaan Maulid. Bagaimana tidak, bukankah kita semua pasti mengidamkan kebersamaan dengan Rasulullah SAW. di akhirat kelak? Maka, sudahilah perselisihan yang selama ini terjadi, seraya julurkan tangan guna merangkul saudara seiman. Bukankah kita mengaku umat Rasulullah? Bukankah Rasulullah mengajarkan akhlak baik dalam mencintai sesama manusia? Dan bukankah cinta sejati butuh pembuktian?

Maka, perayaaan Maulid yang sudah menjadi tradisi di negeri ini tidak bisa dipandang remeh—sebelah mata. Bukan tidak ada manfaat, apa lagi hanya sia-sia belaka menurut sebagian orang, namun sejatinya momen perayaan kelahiran Nabi inilah yang pas dan tepat untuk menyadarkan umat betapa pentingnya mencintai Rasulullah SAW. mencintai dengan berdasarkan peneladanan segala aspek hidup beliau. Jika nilai ini dapat dipahami, niscaya perbedaan yang terjadi selama ini dapat teratasi dengan sikap saling mencintai dan menyayangi sesama manusia. Seperti yang beliau SAW. ajarkan. Maka Pahamilah!!!

 

Penulis: Sugih Darmawan S. ag

4.7/5.0 Article rating
3 Reviews
Rating Tanwirul Afkar
  1. .
  2. .
  3. .
  4. .
  5. .

Related Posts

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *